Malang - Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Malang mewaspadai adanya
manipulasi data yang dikirimkan para pendaftar beasiswa pendidikan bagi
mahasiswa miskin (Bidik misi).
Kabag Informasi Akademik Universitas Brawijaya (UB) Malang Agus Yuliawan, Selasa, mengatakan, tahun lalu sekitar 30 persen pendaftar Bidikmasi yang didiskualifikasi dari seluruh calon mahasiswa yang lolos seleksi administrasi jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).
"Sebagian besar penyebabnya karena mereka memanipulasi data, sebab Bidik misi ini memang hanya untuk calon mahasiswa yang kurang beruntung secara ekonomi," tegasnya.
Kuota calon mahasiswa baru yang diterima melalui program Bidik misi di UB sebanyak 1.250, sedangkan pendaftarnya sudah lebih dari 6.000 orang.
Selain kuota yang terbatas, lanjutnya, daya tampung di setiap program studi juga ikut menentukan lolos tidaknya calon mahasiswa Bidikmisi tersebut.
Ia mencontohkan, di fakultas yang hanya membuka kesempatan Bidikmisi bagi dua calon mahasiswa, tapi yang mendaftar ratusan, otomatis yang gugur juga banyak, karena proses seleksinya juga super ketat.
Hal serupa juga terjadi di Universitas Negeri Malang (UM), calon mahasiswa program Bidik misi yang didiskualifikasi juga hampir mencapai 30 persen dengan penyebab yang sama, yakni manipulasi data.
Menurut Kabag Informasi AKademik UM Aminarti Siti Wahyuni, tahun lalu kuota Bidik misi mencapai 530 mahasiswa dan yang lolos administrasi sebanyak 750 mahasiswa.
"Untuk menentukan siapa yang berhak lolos Bidik misi ini kami lakukan 'home visit' dan ternyata 30 persennya gugur, karena mereka tidak layak menerima beasiswa tersebut," katanya.
Oleh karena itu, katanya, jangan sekali-kali memanipulasi data untuk mendapatkan Bidik misi, sebab ada tim yang akan melakukan survei secara detail di rumah masing-masing pendaftar.(*)
Kabag Informasi Akademik Universitas Brawijaya (UB) Malang Agus Yuliawan, Selasa, mengatakan, tahun lalu sekitar 30 persen pendaftar Bidikmasi yang didiskualifikasi dari seluruh calon mahasiswa yang lolos seleksi administrasi jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).
"Sebagian besar penyebabnya karena mereka memanipulasi data, sebab Bidik misi ini memang hanya untuk calon mahasiswa yang kurang beruntung secara ekonomi," tegasnya.
Kuota calon mahasiswa baru yang diterima melalui program Bidik misi di UB sebanyak 1.250, sedangkan pendaftarnya sudah lebih dari 6.000 orang.
Selain kuota yang terbatas, lanjutnya, daya tampung di setiap program studi juga ikut menentukan lolos tidaknya calon mahasiswa Bidikmisi tersebut.
Ia mencontohkan, di fakultas yang hanya membuka kesempatan Bidikmisi bagi dua calon mahasiswa, tapi yang mendaftar ratusan, otomatis yang gugur juga banyak, karena proses seleksinya juga super ketat.
Hal serupa juga terjadi di Universitas Negeri Malang (UM), calon mahasiswa program Bidik misi yang didiskualifikasi juga hampir mencapai 30 persen dengan penyebab yang sama, yakni manipulasi data.
Menurut Kabag Informasi AKademik UM Aminarti Siti Wahyuni, tahun lalu kuota Bidik misi mencapai 530 mahasiswa dan yang lolos administrasi sebanyak 750 mahasiswa.
"Untuk menentukan siapa yang berhak lolos Bidik misi ini kami lakukan 'home visit' dan ternyata 30 persennya gugur, karena mereka tidak layak menerima beasiswa tersebut," katanya.
Oleh karena itu, katanya, jangan sekali-kali memanipulasi data untuk mendapatkan Bidik misi, sebab ada tim yang akan melakukan survei secara detail di rumah masing-masing pendaftar.(*)
http://www.antarajatim.com/lihat/berita/87259/ptn-waspadai-manipulasi-data-pendaftar-bidik-misi

0 komentar :
Posting Komentar