Surabaya - Apa jadinya, apabila seni barongsai China dicampur dengan
musik modern era sekarang dan juga seni Jawa Timur? Yah, inilah yang
terjadi di SMA Santa Maria Surabaya, Sabtu (5/5/2012), ketika para murid
kelas dua, harus menunjukkan kreatifitasnya. "Legenda Surabaya" menjadi
tema pentas kali ini.
Proses mulai membuat konsep pementasan, panggung, hingga membuat
properti untuk memperkuat peran, dijalani selama 7 bulan terkhir ini,
mulai dari bulan Oktober tahun lalu.
"Sekitar bulan oktober tahun yang lalu, mas, Kami membuat beserta 11
teman kami yang lain. Semua kami buat sendiri. Mulai kostum, koreo dan
pemilihan tema. Kecuali, barongsai Suro dan Boyo ini," ungkap Lidya,
Tita, Ita, dan Cindy, kompak kepada wartawan, Sabtu (5/5) sebelum
pentas.
Lanjutnya, dengan adanya keleluasaan dari pihak guru, menambah
kreatifitas mereka untuk berkesenian. Kendala yang dirasakan hanya pada
alat barongsai Suro dan Boyo ini. Mereka menggunakannya baru sekitar dua
bulan yang lalu. Tapi dapat dimaksimalkan.
Tari Legenda Surabaya ini juga sebagai simbolisasi hari jadi kota
Surabaya yang tepatnya dirayakan akhir bulan ini. Mereka menilai jika
konsep Suro dan Boyo tepat dijadikan momentum peringatan.
"Yah, bisa bertepatan nanti pada 31 mei. Guru saya juga bilang, kalau bertepatan dengan hari jadi kota Surabaya," imbuh Ita.
Dengan 3 peran yaitu peran pada penghuni darat, air dan mangsa,
melibatkan sediktnya 15 orang didalamnya. Akulturisasi terjadi antara
budaya China, Jawa Timur, dan modern saat ini, menarik perhatian
sedikitnya 500 orang dalam Aula Gedung Lantai 4 SMA Santa Maria.
Oleh: Made Ardhiangga - Editor: Masruroh
http://www.centroone.com/news/2012/05/1r/akulturasi-tiga-budaya-di-santa-maria/

0 komentar :
Posting Komentar