MENGAPA LES PRIVAT SAAT INI MENJADI PENTING?

Ketika materi pelajaran dirasa semakin sulit dan penjelasan guru di sekolah kurang dapat dipahami karena keterbatasan waktu. Maka, saat itulah siswa harus dapat mempelajarinya kembali dirumah. Untuk lebih mudahnya, seorang guru privat dapat membantu siswa dalam mengulas materi di sekolah, mengasah materi dengan latihan soal, atau membantu mengerjakan tugas di sekolah.

PRA SD - TK A dan TK B

Membaca saat ini adalah hal terpenting ketika seorang anak akan memasuki sekolah dasar. Ketika anak belum terlalu lancar dalam membaca, terkadang akan menjadi beban pikiran orang tua. Les Privat Surabaya Bintang Smart, dapat membantu memberikan solusi dengan mengirimkan seorang guru les khusus untuk latihan membaca. Sehingga diharapkan anak dalam waktu 1-2 bulan lancar membaca.

Kenapa banyak siswa yang Les Privat di Bintang Smart?

Guru les berkompeten sesuai dengan jurusan masing-masing. Biaya terjangkau, pembayaran mudah, dan praktis. Dan apabil guru tidak cocok bisa ganti. Jadwal menyesuaikan waktu siswa.

Les kemampuan berbahasa dan bakat.

Les privat Surabaya Bintang Smart melayani les privat bahasa. Antara lain Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Jepang, Bahasa Mandarin, dan Bahasa Jerman. Sedangkan untuk soft skill bisa diasah dengan les MENGAJI (BTAQ anak dewasa), Musik (seperti Gitar, Piano-Keyboard, Bass, dan Biola), Renang, dan Komputer (Ms, Teknik)

Mengenai Les Privat Bintang Smart Surabaya

Berdiri sejak September 2009 oleh Destin R. Wijayanti, M.Pd yang mempunyai bekal pendidikan lulusan Universitas Negeri Surabaya. Mempunyai banyak guru berkompeten sesuai bidangnya masing-masing. Les privat ini berada di daerah Wiyung, Surabaya Barat. Guru tersebar di seluruh wilayah Surabaya, Sidoarjo, Krian, Driyorejo.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Tips Belajar di Rumah


Sesuatu yang dilakukan dengan perasaan senang dan suasana nyaman akan menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermakna, termasuk aktivitas belajar di rumah. Alhasil belajar di rumah pun bisa lebih efektif dan fokus dalam menerima ilmu. Nah ternyata perasaan senang dan suasana nyaman itu bisa dengan mudah diciptakan oleh diri kita sendiri.  Hanya memerlukan beberapa usaha untuk mengkondisikan mood belajar kita sesuai dengan gaya dan cara belajar kita. Berikut ini tips-tipsnya untuk belajar di rumah dengan nyaman.
 Pilih tempat belajar yang jauh dari suara bising, misalkan di kamar, ruang tamu, ruang khusus belajar, atau bisa juga di taman rumah jika memungkinkan.
  • Pastikan sirkulasi udara baik dan tidak panas, bisa juga dengan menyalakan kipas angin dan AC atau buka jendela agar sirkulasi udara berjalan lancar.
  • Persiapkan buku atau sumber belajar lain yang akan dipelajari beserta alat tulisnya dan disusun dengan rapih.
  • Silent atau matikan HP agar konsentrasi belajar tidak terganggu.
  • Sediakan makanan ringan/snack untuk membantu agar tidak mudah bosan.
  • Posisi belajar dibuat senyaman mungkin, tapi tidak sambil tiduran atau bahkan terlalu nyaman, agar tidak mudah ngantuk dan tertidur.
  • Jangan ragu bertanya pada orangtua, teman, atau guru les privat yang lebih mengerti tentang materi yang kamu pelajari.
  • Jika sudah merasa bosan dan lelah, lebih baik tidak dipaksakan, bisa dilanjutkan kembali setelah istirahat sejenak.

          Setelah kita siap untuk belajar, otak akan lebih mudah menerima ilmu. Mudah-mudahan dengan menerapkan tips-tips di atas membuat kita lebih bersemangat dalam belajar di rumah. Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan sebelum memulai belajar, sempatkan untuk membaca doa terlebih dahulu supaya apa yang kita akan pelajari akan dimudahkan dalam memahaminya. Semoga ilmu kita bermanfaat bagi orang lain, Selamat belajar.

          Peran Orang Tua sebagai Guru Pertama dalam Pendidikan Anak



          Jakarta -- Tony Buzan hadir menjadi pembicara  Seminar“How Smart Parents Make Smart Kids”.
          Seminar tersebut diselenggarakan Yayasan Pendidikan Qolbun Salim, Buzan Indonesia dan Kementerian Pendidikan Nasional. Acara yang bertempat di Auditorium Kemdiknas tersebut, dihadiri banyak pengamat pendidikan dan dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Minggu (25/09).

          Tony ,seorang pendidik dan penemu metode berpikir dengan menggunakan skema mind mapping yang tersohor tersebut, yang tahun ini dinominasikan untuk meraih  nobel karena jasanya dalam mengembangkan pendidikan global dan kemanusiaan ini menyampaikan, setiap orang tua adalah guru pertama dan terpenting yang ditemui oleh setiap anak ketika lahir di dunia. Peran orang tua tersebut tentu tidaklah mudah, karena mereka haruslah mampu melihat dan kemudian memfasilitasi segala bakat yang dimiliki seorang anak.

          Hal senada diungkapkan Fasli. Dia menilai, keluarga merupakan gerbang pertama tempat bakat seorang anak harus ditemukan dan difasilitasi. “Kita memiliki 53 Juta keluarga, bayangkan apabila 53 juta keluarga ini memiliki satu anggotanya saja, baik ayah, ibu, kakak atau adik yang mengerti dengan apa yang disampaikan Tony ini, maka anak Indonesia akan menjadi generasi memiliki daya saing “ sahut Fasli.

          Peranan yang sama pun diemban oleh guru. Fasli mengungkapkan bahwasanya hingga saat ini tercatat  tidak kurang dari 24ribu guru TK, lebih dari 20ribu guru PAUD nonformal dan termasuk 1,5 Juta guru SD yang memiliki tanggung jawab besar menemukan bakat, dan minat peserta didiknya di sekolah.

          Fasli menjelaskan, tugas para pendidik ini adalah dapat memastikan, bahwa apa saja yang peserta didik dapat di rumah, para pendidik dapat terus memastikan untuk memberikan peluang, kesempatan dan kasih sayang terhadap segala bakat yang dimiliki oleh para peserta didik. “Bila ini terjadi, setiap kali kita melakukan kontak dengan mereka, kita akan menemukan harapan dan rasa percaya diri bahwa peserta didik inilah yang akan membangun bangsanya kelak.”

          Adapun Tony mendefinisikan arti dari sebuah profesi guru sebagai, “seorang pribadi yang bertanggung jawab dalam menggali, menemukan dan memfasilitasi bakat sang anak.“
          Tony pun kemudian menyadarkan para peserta tentang begitu beragamnya kecerdasan anak. Segala kecerdasan yang dimiliki sang anak tentu berbeda-beda dan tidak pernah sama. Tidak pernah ada kecerdasan yang dinilai mutlak. Tony pun kemudian mempertanyakan arti dari pemberian label cerdas pada seorang anak. “Apakah arti cerdas itu sendiri?” kata pria yang tercatat dua kali menjadi editor MENSA, sebuah perkumpulan untuk individu yang memiliki IQ (intelegensia quotient) tertinggi di dunia.

          Kemudian,Tony pun menyoroti banyaknya guru yang melakukan penghakiman atau pelabelan pada muridnya. Menurut pria yang tercatat memiliki creativityquotient (CQ), tidak ada seorang pun yang berhak melakukan segala pelabelan tersebut, “Siapa yang memiliki hak untuk menyatakan bahwa anda tidaklah cerdas dan anda cerdas, dan siapa yang juga berhak mengatakan bahwa anak tidak berbakat menjadi seorang ilmuwan dan teman Anda memiliki bakat tersebut?. Jawaban saya adalah tidak ada seorang pun yang berhak melakukan itu kepada Anda. Riset saya bertahun-tahun, mengonfirmasi bahwa semua anak jenius. Mereka hanya menunggu untuk kita menemukan kejeniusan mereka, dan ini adalah tanggung jawab dari seorang guru dan orang tua. Tugas keduanya adalah pekerjaan paling penting di dunia,” katanya memaparkan.

          Fasli mengakui tidak sedikit para pendidik bahkan orang tua yang sering memberikan pengklasifikasian kepada peserta didik atau anak mereka. “Ini sebetulnya persoalan yang sangat mendasar, jelas sekali betapa kita dapat dengan mudah dan cepat mengklasifikasikan anak-anak kita, ini anak nakal dan itu anak malas, siapa yang berhak menentukan itu semua?”

          sumber: kemdiknas.go.id

          Tips Agar Anak Hobi Membaca


          Anak cenderung memilih kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan dibandingkan membaca, padahal membaca adalah kegiatan yang dapat menambah wawasan dan ilmu pada anak nantinya. Tetapi jika Anda dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggembirakan maka mereka akan bersemangat untuk memulai kegiatan tersebut.
          Penulis buku anak terkenal, Peter Corey, menyarankan salah satu kunci sukses agar suasana kegiatan membaca dapat menyenangkan adalah bacalah bersama-sama dengan anak Anda. Membaca bersama si kecil adalah kegiatan yang positif dan edukatif, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat baca anak Anda.
          Seperti yang dikutip dari femalefirst, Peter Corey juga memberikan tips lainnya untuk Anda meningkatkan minat baca untuk Anak Anda, yaitu:
          1. Kegiatan membaca bersama lebih efektif bila dilakukan 10-15 menit setiap harinya. Bila Anda tidak menemukan waktu yang tepat selama satu hari penuh, maka manfaatkanlah waktu sebelum tidur untuk membaca bersama buah hati Anda.
          2. Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan, jadi hindari memaksakan anak untuk membaca saat si kecil lelah dikarenakan banyak kegiatan. Biarkan ia memiliki inisiatif untuk memulai membaca.
          3. Setelah kegiatan membaca selesai, sebaiknya gunakan waktu untuk si kecil memberikan pendapat, kesan, ide tentang cerita tersebut dan dengarkan apa yang diutarakannya kemudian diskusikan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui apakah ia mengerti isi buku yang ia baca.
          4. Gunakanlah fasilitas yang mendukung cerita, seperti nikmati setiap gambar pada buku cerita tersebut. Anak akan lebih mudah mendapatkan pemahaman dengan bantuan gambar.
          5. Selalu memilih cerita yang sederhana, lucu dan menarik untuk anak. Bila perlu pilihlah buku cerita yang menjadi tema kesukaannya.
          6. Tema cerita buku anak-anak sangat beragam. Jadi belilah buku tersebut di toko buku bagian khusus anak agar dapat menemukan tema cerita yang menarik.
          7. Sederhanakanlah penggunaan kata-kata yang Anda ucapkan. Hindari membacakan kalimat yang panjang dan sulit dimengeri anak. Bila anak Anda tidak paham dengan alur cerita, maka gunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti.
          8. Jangan ragu untuk menilai buku dari sampul dan siapa penulisnya. Ini dapat menolong Anda untuk memutuskan apakah buku tersebut layak Anda beli.
          9. Jangan khawatir jika anak Anda ingin membaca buku yang sama setiap saat. Anak-anak biasanya menikmati kegiatan pengulangan karena dapat membantu mereka untuk lebih memahami cerita.
          10. Berikanlah pujian kepada anak Anda yang telah berusaha untuk membaca. Biarkan ia tahu apa kesalahannya saat membaca. Dengan begitu, ia akan semakin sempurna dalam membaca. (eya/eya)

          Otak Kanan Penentu Kreativitas


          Ibu dan Bapak, jangan cuma menekankan pembelajaran hapalan pada si kecil tapi optimalkan juga fungsi otak kanannya kalau ingin ia jadi anak kreatif.
          Sering, kan, melihat anak-anak main kuda-kudaan dengan menggunakan sapu ijuk atau pelepah pisang yang dibentuk seperti kuda? Itu tandanya mereka kreatif. Nah, yang menggerakkan kreativitas ini adalah belahan otak kanan. Seperti diketahui, otak manusia terdiri belahan otak kiri dan kanan.
          Sayangnya, fungsi belahan otak kanan amat kurang dioptimalkan. Justru pemberdayaan belahan otak kiri yang lebih diutamakan. Lihat saja di sekolah-sekolah, para guru cenderung lebih menekankan pembelajaran menulis, membaca, berhitung, atau menghapal. Padahal, pembebanan otak dengan pembelajaran seperti itu, tak sepenuhnya akan mewujudkan peningkatan perkembangan kognitif (daya pikir) anak. “Bahkan justru menjadikan anak tak berpikir kreatif karena fungsi imajinasi yang terletak di otak kanan diabaikan,” ujar Prof. Dr. Conny R. Semiawan.
          Jadi, jika belahan otak kanan kurang berfungsi, maka anak akan lebih berpikir linier (satu arah), teratur, dan logis. Dampaknya, anak tak berpikir multi dimensional. Ambil contoh beberapa ekonom yang sering berpikir monolitik atau linier, yaitu hanya berpikir tentang bidang ekonomi saja. “Padahal, perkembangan ekonomi itu dipengaruhi oleh berbagai macam bidang, seperti politik dan sosial,” lanjut Guru Besar pada Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta dan Fakultas Psikologi UI ini.
          Meskipun teori ini tak mutlak sifatnya, namun ilmu yang disebut neuroscience yang mendeteksi perkembangan kedua belahan otak ini sudah diakui oleh para ilmuwan.
          SEJAK NOL TAHUN
          Tentunya Ibu dan Bapak masih ingat, betapa penting kreativitas dalam kehidupan seseorang. Jika sedari dini kreativitas anak sudah dikembangkan, seperti dikatakan Prof. Dr. S.C. Utami Munandar, Dipl-Psych., berarti kita sudah memberi dasar kokoh pada kehidupan anak selanjutnya. “Dalam dirinya sudah terbentuk sikap dan pribadi kreatif.” (nakita No.23/I/11 September 1999.) Dengan begitu, ia akan lebih siap dan mampu menghadapi masalah-masalah di masa depan. Ingat, lo, kehidupan berubah amat cepat. Jika si kecil tak kreatif, ia takkan mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang terjadi di zamannya.
          Jadi, Bu-Pak, bila ingin si kecil tumbuh dan berkembang sebagai orang kreatif, optimalkan fungsi belahan otak kanannya sejak sekarang. Malah, kata Conny, hal ini sudah bisa dilakukan sejak anak berusia nol tahun karena manusia itu mulai belajar sejak nol tahun. “Bayi yang baru lahir, misal, jika tiap ia menangis lalu digendong ibunya, lama-lama ia pun merasakan, ‘Oh, kalau aku menangis berarti aku akan digendong.’ Hingga, tiap kali ingin digendong, ia pun menangis.” Itu sebab, anjurnya, ibu harus bersikap bijak. “Jika anak menangis, jangan langsung main gendong tapi selidiki dulu apakah nangisnya karena lapar, digigit binatang, popoknya basah, ataukah karena ia memang ingin digendong.” Dengan begitu, secara tak langsung kita telah melatih si kecil “berpikir” sebab-akibat, hingga akhirnya ia tahu bagaimana cara menunjukkan apa yang ia butuhkan lewat tangisannya. Misal, “Oh, kalau aku nangisnya pelan, ibu akan mengajakku main. Tapi kalau aku nangisnya sampai teriak-teriak, ibu akan menggendongku.”
          AJUKAN PERTANYAAN
          Yang jelas, dalam upaya mengembangkan kreativitas anak atau mengoptimalkan fungsi belahan otak kanannya, kita tak boleh menjadikan anak sebagai objek yang harus menerima apa saja yang kita sampaikan. Justru kita harus menjadikannya sebagai subjek yang dilibatkan secara intensif berdialog (komunikasi dua arah) dengan mengacu pada topik yang kita bicarakan. “Ini akan lebih efektif dan mengena karena belahan otak kanannya akan terfungsikan,” terang Conny.
          Namun, apa yang kita sampaikan (topiknya) harus menerobos masuk ke pusat minatnya, yang selanjutnya akan tergerak pula emosinya, hingga anak terdorong untuk berpikir. “Hal ini disebut getaran emosional yang menjadikan berpikirnya anak tersentuh.” Tentunya, apa yang kita sampaikan haruslah familiar buat anak agar anak tertarik (masuk ke pusat minat), hingga ia pun tergerak untuk mengetahuinya (emosi tergerak), yang dilanjutkan dengan berpikir. Dengan begitu, belahan otak kanannya barulah berfungsi.
          Adapun caranya, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Misal, “Nak, kamu, kan, sering melihat burung. Nah, mengapa burung yang sering kamu lihat itu bisa terbang?” Mungkin ia akan menjawab, “Karena burung punya sayap.”, atau, “Memang sudah dari sananya bisa terbang.”, bisa pula, “Habis, kakinya kecil-kecil. Kalau ada musuh, kan, dia enggak bisa lari kenceng. Tapi kalau bisa terbang, kan, dia bisa cepet-cepet lari.”, dan seterusnya. Apa pun jawabannya, kita minta ia untuk memberikan sebanyak mungkin alasannya. Dengan begitu, kita melatih keterampilan berpikir kreatifnya.
          Pengajuan pertanyaan-pertanyaan ini juga perlu diterapkan dalam hidup sehari-hari. Misal, si kecil minta dibelikan boneka padahal bonekanya di rumah sudah setumpuk. Jangan katakan, “Lo, kamu, kan, sudah punya banyak boneka. Lebih baik mainan masak-masakan ini aja. Kan, kamu belum punya.”, tapi katakan, “Bonekamu, kan, sudah banyak. Kenapa kamu ingin beli boneka lagi?” Dengan begitu, si kecil diajak berpikir, benarkah boneka tersebut memang yang ia butuhkan. Hingga, ia pun bisa menjelaskan mengapa ia tetap memilih boneka ketimbang mainan lain. Hal ini sekaligus mengajarkannya untuk memilih dan mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.
          Bisa juga kita mengajak si kecil membuat kesimpulan sendiri dari hasil pengamatannya terhadap lingkungan selama ini. Caranya, minta ia membuat kalimat dengan berpikir secara hipotesis (menduga sesuatu yang belum terjadi). Misal, membuat kalimat yang awalnya menggunakan kata “apabila”, seperti “Apabila hujan turun deras dari pagi hingga malam, maka akan terjadi banjir.”; “Apabila tanah enggak ada tanamannya, maka tanah itu akan rusak.”; “Apabila aku punya banyak uang, maka aku akan beli mobil yang besar supaya bisa ajak kakek-nenek jalan-jalan.”; dan seterusnya.
          Cara lain, ajak si kecil bereksperimen dengan menggunakan alat peraga. Misal, kita ingin mengajarkan tentang erosi. Ajak si kecil menyiapkan dua buah kotak yang sama-sama diisi tanah, lalu salah satu kotak ditanami rumput. Kita suruh ia mengamati kedua kotak itu dan menuangkan air ke dalamnya. Setelah itu kita simpulkan dan sampaikan pada si kecil bahwa tanah dalam kotak yang tak ada rumputnya bila diisi air akan mengalami erosi.
          JANGAN MENDOKTRIN ANAK
          Namun dalam menerapkan cara pembelajaran tadi harus dilakukan dengan bermain, lo. Ingat, dunia anak adalah dunia bermain. Selain itu, bilang Conny, suasananya juga harus demokratis, “tak boleh terlalu teacher centered.” Maksudnya, terarah pada apa yang dikatakan guru/orang tua. Jadi, tak dibenarkan jika perkataan kitalah yang harus berlaku. Selain itu, harus pula dibangun suasana yang selalu ada interaksi dua arah antara anak dan kita (ada dialog). Berikutnya, kita harus pula mendengarkan atau menanggapi pendapat anak. “Jadi, anak di sini haruslah kita hargai pendapat-pendapatnya. Dengan begitu anak akan timbul kreativitasnya.”
          Dengan kata lain, untuk mengoptimalkan belahan otak kanan, baik guru maupun orang tua, jangan sekali-kali mendoktrin anak. Misal, kita mengajarkan kegunaan suatu alat, “Nak, sapu ijuk ini gunanya untuk menyapu lantai.” Namun bila si kecil punya pendapat lain, “Enggak, Ma, sapu itu buat main kuda-kudaan.”, menurut Conny, kita jangan lantas menyalahkannya. Soalnya, si kecil pun tak salah bahwa sapu bisa dijadikan kuda-kudaan, selain fungsi yang sebenarnya untuk menyapu. “Justru bila kita menyalahkan pendapatnya, perkembangan fungsi belahan otak kanan tak akan maksimal.”
          Hal lain yang perlu diperhatikan, untuk mengoptimalkan fungsi belahan otak kanan, kita juga wajib memberi kebebasan bereksplorasi pada si kecil. Jangan sampai kita membatasi ruang geraknya karena hanya akan menghambat kreativitasnya. Begitu pun jika si kecil banyak bertanya, jangan malah dimarahi atau dicuekin, tapi harus dijawab atau ajak ia untuk menemukan jawabannya dari buku, misal. Si kecil pun harus diberi kebebasan mengekspresikan diri lewat aneka mainan dan permainan kreatif seperti mencoret-coret, menggambar, membuat aneka bentuk dari tanah liat atau lilin, bermain pasir, bermain peran, dan sebagainya. Dengan begitu, imajinasinya makin berkembang dan ia pun tambah kreatif.
          HARUS SEIMBANG
          Pendeknya, Bu-Pak, dengan kita mengoptimalkan fungsi belahan otak kanan anak, nantinya si kecil akan menjadi anak yang penuh kreativitas, berpandangan jauh, dan punya imajinasi tinggi. “Ia akan selangkah lebih maju ketimbang anak lain yang hanya belahan otak kirinya saja dioptimalkan,” kata Conny.
          Bukan berarti kita lantas menganaktirikan atau mengesampingkan fungsi belahan otak kiri, lo. Soalnya, dampaknya juga enggak bagus jika lebih mementingkan belahan otak kanan. “Nanti anak malah tak mampu untuk berpikir logis, linier, dan teratur yang juga sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.” Jadi, yang terbaik adalah mengoptimalkan kedua belahan otak tersebut secara seimbang.
          BELAHAN OTAK KANAN PEREMPUAN DAN LELAKI BERBEDA
          Ternyata, beda, lo, perkembangan belahan otak kanan antara anak perempuan dan lelaki. “Dalam sebuah teori yang percaya pada nature atau alam daripada lingkungan, dikatakan bahwa perempuan lebih cenderung berkembang belahan otak kanannya ketimbang laki-laki. Itu bisa terlihat bahwa perempuan itu lebih emosional dan intuitif serta sering kurang tegas mengambil keputusan. Akan tetapi ia juga sangat kritis,” tutur Conny.

          Les Privat di Rumah


          Les privat merupakan pilihan yang efektif dan efisien saat ini bila Anda ingin mempelajari suatu topik pelajaran. Karena dengan les secara privat, Anda bisa langsung berinteraksi dengan guru secara lebih maksimal. Tapi tahukah Anda untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan faktor pendukung diantaranya:
          • Lingkungan yang tenang. Suasana yang tenang sangat diperlukan apabila Anda sedang mempelajari pelajaran yang membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi, misal Anda sedang belajar matematika, fisika, kimia atau pelajaran yang membutuhkan hapalan. Jadi kalau Anda mempunyai ruangan khusus misal ruang belajar maka akan sangat efektif bila Anda menggunakannya.
          • Mengulang materi dengan mengerjakan soal latihan. Untuk pelajaran berhitung, cara untuk menguasai pelajaran tersebut adalah dengan memahami teori dan berlatih dengan soal-soal yang terkait. Karena pelajaran eksak selain membutuhkan pemahaman juga membutuhkan keterampilan dalam mengerjakan soal-soal terkait. Dengan banyak mengerjakan variasi soal maka Anda akan terbiasa dengan aneka soal dari mudah sampai yang tingkatnya kompleks.
          • Kondisi phisik. Ketika Anda akan les privat usahakan badan Anda dalam kondisi fit. Istirahat yang cukup dan makan pada waktunya sehingga konsentrasi Anda tidak terganggu ketika les sedang berjalan.
          • Pantauan Orangtua. Orangtua diharapkan ikut membantu dalam kemajuan belajar anak dengan menyiapkan buku-buku penunjang untuk anak serta turut memotivasi anak.
          • Motivasi dan Antusias. Ini adalah faktor yang paling dominan dalam keberhasilan belajar. Karena dengan motivasi untuk mencapai prestasi terbaik maka Anda akan mempunyai daya dorong yang tinggi untuk mempelajari hal-hal yang baru. Dan dengan antusias yang tinggi maka Anda akan bersemangat dalam belajar. Anda belajar bukan sekedar untuk mendapatkan nilai yang tinggi, tetapi lebih dari itu yaitu untuk memenuhi rasa ingin tahu Anda akan pelajaran yang terkait