Beberapa isu bergulir di seputar saya ketika saya lulus SMA. Isu-isu itu berisi
kiat-kiat menempuh Sipenmaru (sekarang SPMB). Yang paling heboh buat saya adalah
kiat lulus tes hanya dengan modal manipulasi lembar jawaban saat Sipenmaru.
Ada yang berargumen melapisi lembar jawaban dengan lilin, ada yang berargumen bahwa
dengan menghitamkan semua jawaban bakal mampu menipu komputer, ada yang mengusulkan
pakai tinta ini itu dan sebagainya.Benarkah demikian ?
Tahun 1987 saya lulus dari SMAN I Tuban. Tentu saja saya juga ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya tidak jadi ikut Sipenmaru (sekarang SPMB) karena saya keburu diterima lewat jalur PMDK. Dan sesuai pilihan saya, saya diterima di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Airlangga. Meskipun jelas tidak akan mengikuti Sipenmaru tetapi saya turut mengamati hiruk-pikuk
teman-teman saya yang akan berjuang habis-habisan dalam kancah Sipenmaru. Dan betul, isu-isu di atas memang benar adanya. Sangat susah bagi saya, saat itu, untuk tidak percaya kebenaran isu-isu tersebut.
Di antara isu-isu tersebut yang paling menarik saya saat itu adalah penggunaan lilin untuk melapisi lembar jawaban. Kata teman saya : "Dengan lapisan lilin di permukaan lembar jawaban maka nanti scannernya akan menerima pantulan sinar dari lilin sehingga dia mengira ada jawaban pada huruf yang akan diperiksa jawabannya. Dengan demikian scanner akan tertipu sehingga mengira semua jawaban kita benar dan ... kita akan dapat nilai 100% benar !" "Wah ini baru ini cemerlang !", pikir saya saat itu. Akan tetapi, begitu mudahnyakah teknik penilaian itu di"hack" ?
Setelah sekian tahun berlalu dan setelah saya mengerti teknologi bagaimana scanner bekerja akhirnya saya tahu bahwa isu-isu di atas jelas keliru. Untuk adik-adik yang akan mengikuti Seleksi PMDK maupun SPMB perlu saya jelaskan bahwa teknologi saat ini telah menghasilkan mesin scanner yang memang mampu melakukan proses pemberian skor secara langsung, tentu saja setelah diberi kunci jawaban. Apapun feature yang telah ditambahkan pada scanner, tetap saja scanner akan bekerja melalui beberapa tahap :
- pembacaan koordinat permukaan berdasarkan kotak kotak kecil di pinggir kertas.
- membaca data sesuai dengan setting Lembar Jawaban.
- membaca dimana posisi bulatan hitam (bukan menentukan apakah di posisi tertentu ada bulatan hitam seperti kalau seorang guru memeriksa kertas ujian multiple choice.)
Tahap 3 itulah yang kebanyakan dari kita yang awam masih sering salah paham. Jelas bahwa scanner mendeteksi posisi bulatan hitam. Bila keberadaannya tidak pada posisi yang benar maka scanner akan menolaknya.
Yang saya maksud dengan posisi yang tidak benar termasuk di dalamnya adalah adanya penulisan jawaban rangkap. Scanner bisa diset supaya menolak bila pada koordinat tertentu terdapat bulatan hitam lebih dari satu buah. Dengan demikian argumen bahwa scanner dapat ditipu dengan jawaban ganda adalah salah besar.
Lalu bagaimana dengan lilin ? Andaikan isu itu benar, wah betapa pusingnya scanner. Dia akan menerima pantulan cahaya dari semua permukaan Lembar Jawaban. Kemudian, mana yang yang harus dijadikan data ? Kita saja bingung apalagi scanner !. Jadi, isu penggunaan lilin untuk menipu Lembar Jawaban adalah tidak benar. Lagi pula, kurang kerjaan banget, melapisi Lembar Jawaban dengan lilin sebelum ujian dimulai. Jangan-jangan kita dikira memakai jasa dukun.
Tinta ? Sebaiknya kita ikuti petunjuk panitia bahwa kita harus menggunakan pensil 2B. Titik. Memang tidak ada yang melarang penggunaan tinta (bahkan cat tembok sekali pun !). Tetapi masalahnya bukan dilarang atau tidak, melainkan bisa tidak Lembar Jawaban kita diproses dengan benar oleh scanner.
Sebaiknya kita jangan termakan isu-isu yang tidak benar. Konsentrasikan pada pengisian yang benar. Ingat selalu saja ada peserta yang tidak teliti dalam pengisian Lembar Jawaban. Ini yang perlu diwaspadai !

0 komentar :
Posting Komentar