Suatu saat ada peserta yang dinyatakan lulus dan diterima di program studi tertentu, sebut saja program studi X. Merasa bahwa panitia melakukan kesalahan dalam penentuan kelulusan, Si Peserta itu mengajak orang tuanya mendatangi Sekretariat PMDK. Si Peserta yakin bahwa dia milih program studi Y tapi mengapa diterima di program studi X. Panitiakah yang salah ?
Penggunaan komputer untuk melakukan pemeriksaan lembar jawaban peserta tes (termasuk Ujian Tulis PMDK UNAIR) memang sangat membantu panitia dalam melakukan tugasnya. Coba Anda bayangkan, hanya dengan beberapa detik saja pemeriksaan jawaban dari sekian ribu peserta tes dapat diselesaikan. Tentu saja sebelumnya lembar jawaban tersebut telah discan. Proses scanning pun juga dapat dilakukan dengan cepat hingga ribuan lembar per jam.
Perlu diingat bahwa komputer bukan manusia. Ia tidak punya perikemanusiaan. Bahkan perikekomputeran pun saya juga belum pernah mendengar keberadaanya. Itu artinya komputer sangat bergantung kepada manusia. Demikian juga dalam ujian tulis dimana lembar jawaban menggunakan lembar yang nantinya akan discan. Kemampuan komputer untuk menjalankan tugasnya sepenuhnya bergantung pada kondisi lembar jawaban tersebut. Scanner sebagai partner komputer hanya tahu pengisian itu benar atau salah. Benar diproses dan salah tidak akan diproses. Itu saja. Celakanya, dari tahun ke tahun banyak peserta tes tulis melakukan kesalahan yang sama dengan kesalahan yang dilakukan oleh peserta sebelumnya.
Kembali ke kasus peserta yang diterimanya "kesasar" di progrm studi lain.
Si Peserta sangat yakin bahwa apa yang diisikan sudah benar, hingga ditunjukkanlah formulir yang telah diisi oleh peserta pada saat pendaftaran. Akhirnya terbukti bahwa memang ada kesalahan pada pengisian pilihan program studi. Si orang tua akhirnya minta maaf kepada panitia dan berikutnya malah memarahi putranya yang ceroboh dalam mengisi formulir.
Si Peserta sangat yakin bahwa apa yang diisikan sudah benar, hingga ditunjukkanlah formulir yang telah diisi oleh peserta pada saat pendaftaran. Akhirnya terbukti bahwa memang ada kesalahan pada pengisian pilihan program studi. Si orang tua akhirnya minta maaf kepada panitia dan berikutnya malah memarahi putranya yang ceroboh dalam mengisi formulir.
Kejadian itu hanyalah satu dari sekian kejadian yang ada.
Mari kita perhatikan gambar berikut.
Mari kita perhatikan gambar berikut.
Sekilas nampak bahwa tidak ada yang salah dengan pengisian tersebut. Tetapi kalau dicermati, 2 angka terakhir ternyata tidak ada kesesuaian antara tulisan dengan arsiran. Tertulis adalah "10512698" akan tetapi terarsir sebagai "10512699". Perhatikan bahwa kesalahan terjadi pada pengarsiran untuk angka yang "dalam" maksud saya angka 8 atau 9. Jadi kalau nanti Anda mendapatkan angka-angka gedhe atau "dalam" tadi sebaiknya Anda lebih berhati-hati dalam mengarsir formulir maupun lembar jawaban saat tes.
Meskipun saya mengatakan bahwa angka-angka dalam lebih rawan menimbulkan kesalahan, toh ada saja kesalahan pada huruf-huruf "ringan". Mari kita perhatikan gambar berikut.
Kesalahan yang terjadi pada gambar ke dua itu lebih sulit untuk dicari. Langsung saja saya tunjukkan. Perhatikan huruf "M" pada kata kedua nama tersebut yaitu "SUHERMAN". Ternyata terjadi pengarsiran ganda pada kolom huruf "M" sedangkan kolom "A" bahkan tidak diarsir.
Anda mungkin tidak percaya bahwa kesalahan semacam itu seringkali terjadi bahkan pada saat penyerahan formulir sekalipun. Untungnya Panitia PMDK UNAIR menerapkan scanning langsung di tempat sehingga kesalahan pada formulir pendaftaran akan terdeteksi secara dini dan calon peserta dipersilahkan memperbaikinya. Bagaimana dengan SPMB yang melakukan scanning setelah formulir terkumpul dalam jumlah banyak ? Saya yakin Anda sudah bisa menebak resikonya bagi Anda.

0 komentar :
Posting Komentar