Mengamati pertumbuhan anak masa balita memberikan kebahagian tertentu. Menginjak usia dua setengah tahun, putri saya sudah lancar bercakap cakap. Setelah saya mengamatinya ternyata, memang semakin banyak saya “cerewet” menjejalkan kosakata, semakin banyak kemungkinan suatu kosakata itu muncul terekam dan muncul dalam percakapan.
“Cerewet” dalam hal yang positif dalam artian bahwa sesering mungkin saya berusaha untuk mengajak anak berdialog. Tujuannya agar memberikan suatu dasar berkomunikasi dengan pengkayaan kosakata.
Suatu ketika kami melewati sebuah masjid. Saya menunjukkan kepada Anak saya bahwa bangunan itu adalah Masjid. Dalam kesempatan yang lain, putri saya ini menunjuk sebuah bangunan dan mengatakan “ itu masjid”.
Saya pun tersenyum mendengarnya. Sebenarnya bangunan itu adalah rumah sakit. Kalau pun Adel menyebutnya sebagai masjid, itu lebih kepada bentuk arsitektur bangunan rumah sakit yang atapnya terdapat dua kubah besar.
Saya pun menjelaskan kepada Adel bahwa bangunan itu bukan masjid, namun sebuah rumah sakit. Adel pun tetap bersikukuh sambil merengek dan berkata dengan nada tinggi,” Ayah itu masjid !”.
Saya pun menjelaskan,” Atap rumah sakit itu memang menyerupai masjid, karena ada dua Kubah yang memayunginya. Memang banyak masjid yang mempunyai Kubah, tetapi tidak semua yang ber-Kubah adalah masjid . Bentuk atap masjid dan atap rumah sakit yang Adel lihat itu namanya Kubah“.
Sudah menjadi kebiasaan setiap kali saya akan berangkat ke kantor, Adel minta diajak berputar putar dulu di sekitar komplek perumahan. Sementara itu percakapan tentang Kubah itu sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu. Beberapa hari yang lalu ketika saya mengajaknya berputar putar, sembari menarik perhatian saya yang sedang menyetir, Adel tiba tiba nyelethuk,“ Ayah itu ada Kubah“. Saya pun terhenyak. Ternyata kata Kubah yang saya jelaskan beberapa bulan yang lalu masih diingat Adel.
Kami adalah orang Jawa, namun demikian saya dan istri memang bersepakat untuk berbicara bahasa Indonesia dengan Adel. Saya selalu menggunakan bahasa Jawa ngoko ketika berbicara dengan istri. Tujuannya agar sedikit banyak Adel mengerti bahasa Jawa.
Saya senang bernyanyi, demikian juga Adel, senang sekali kalau diajak bernyanyi. Saya sering nyanyikan beberapa lagu lagu nasional seperti Indonesia Raya, Hari Merdeka, dan Sorak Sorak Bergembira, untuk menemani tidur. Sebagai trik untuk memasukkan kosakata bahasa Jawa, saya menyelipkan lagu berbahasa Jawa, seperti Suwe Ora Jamu,Kodok Ngorek, dan Jaranan.
Adel menikmati irama lagu jawa yang saya nyanyikan, tak satupun ada kata yang dimerngertinya. Lagu lagu jawa itu saya ulang terus menerus ketika ada kesempatan.
Sampai pada suatu ketika setelah saya menyanyikan lagu Jaranan, Adel mulai bertanya,“ Ayah Jaran itu apa “.
Saya jawab,“ Jaran bahasa Jawa, artinya Kuda“. Pada suatu pagi, karena kelelahan lembur di kantor, saya bangun agak terlambat. Sayup sayup terdengar di lantai bawah, saya mendengar Adel menyanyikan lirik lagu Jaranan :
Jaranan jaranan jarane jaran Teji
Sing numpak Mas Ngabehi, sing ngiring para abdi
Saya pun tersenyum geli bercampur gembira.
Perlu kehati-hatian memang dalam mengajarkan suatu kata kepada anak. Hal yang pertama didengar adalah hal yang dianggap benar.
Pada kesempatan di malam hari saya menunjukkan bulan yang berbentuk sabit. Saya mengatakan itu bulan sabit, karena bentuknya seperti sabit. Kalau bulannya bulat, namanya bulan purnama.
Pada kesempatan di malam yang lain, Adel digendong eyang putrinya dibawa ke depan halaman rumah. Eyang putri mengatakan,“ Itu lho bulannya bagus“.
Adel mendebat,” Itu bukan bulan, itu bulan sabit “
Terkadang saya juga mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan anak saya. Adel pernah menanyakan nama mesin penggiling aspal yang dilihat di televisi.
sumber :yohan46.blogspot.com
Untuk memberikan jawaban yang akurat, saya harus membuka ensiklopedi. Namun sayangnya dalam ensklopedi tersebut saya tidak menemukan alat berat mesin penggiling aspal tersebut. Akhirnya saya menjawab dengan kosakata yang saya ketahui bahwa nama mesin penggiling aspal itu adalah stom. Saya sendiri kurang yakin etimologisnya. Namun waktu kecil dahulu orang orang menyebutnya demikian.
Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2013/03/09/parenting-hikmah-cerewetnya-orang-tua-pada-anak--541390.html

0 komentar :
Posting Komentar